Viral Pemberitaan Vanessa Angel Hingga ke Ranah Politik

Marmagatinews - Kasus dugaan prostitusi yang melibatkan artis Vanessa Angel mendapat perhatian publik secara luas.

Selain karena publik figur, yang seharusnya bisa menjadi contoh, Vanessa dibayar dengan tarif yang tidak sedikit yaitu Rp 80 juta.

Komentar publik khususnya di media sosial bermacam-macam. Bahkan ada komentar nyaris tidak terkontrol, bahasanya vulgar, ada juga yang menyeretnya ke wilayah politik Pilpres 2019.

Misalnya, seperti yang disampaikan pegiat media sosial yang juga pendukung Jokowi, Denny Siregar di akun Twitter miliknya @Dennysiregar7.

“Habis bayar sekali crot 80 juta, trus teriak, “jaman @jokowi apa-apa mahal !!” tulis Denny Siregar.

Rekan Denny Siregar yang juga sama-sama pegiat medsos dan pendukung Jokowi, Permadi Arya alias Abu Janda juga menyampaikan hal yang serupa, sembari menyerempet paslon Prabowo-Sandi.

“Masih banyak yang sanggup bayar apem 80 juta sekali tembak adalah bukti pak @prabowo & @sandiuno nebar HOAX mengatakan “rakyat makin miskin” kata Abu Janda di akun @permadiaktivis.

Pegiat medsos yang pernah diundang Jokowi ke Istana, Afi Nihaya Faradisa tidak mau kalah. Afi yang pernah menjadi perbincangan karena kasus plagiarisme menulis panjang lebar tentang kasus Vanessa yang diunggah di akun Facebook.

Salah satu poin yang disampaikan Afi yaitu menganalogikan kasus Vanessai layaknya hukum pasar pada bidang ekonomi.

“Ada permintaan, ada penawaran. Hukum pasar dalam bidang ekonomi pasti seperti itu. Dan VA berhasil melampaui hukum pasar tersebut, dia menciptakan pasarnya sendiri. Dia yang memegang kontrol dan otoritas atas harga, bukan konsumennya.

Saya justru penasaran bagaimana VA membangun value/nilai dirinya, sehingga orang-orang mau membayar tinggi di atas harga pasar reguler. Seperti produk Apple Inc. atau tas Hermes- kita bisa belajar dari sana.

Padahal, seorang istri saja diberi uang bulanan 10 juta sudah merangkap jadi koki, tukang bersih-bersih, babysitter, dll. Lalu, yang sebenarnya murahan itu siapa? *eh

(Makanya, kalau tidak mau dihakimi jangan menghakimi)”.

Previous
Next Post »
Thanks for your comment